1.
Pengertian
Citra
Menurut Hornby (1974) ada tiga
Pengertian Citra Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English
sebagai berikut :
·
Keserupaan atau tiruan seseorang atau
sesuatu barang terutama yang dibuat dari kayu, batu, dan sebagainya
·
Gambar mental atau gagasan, konsep
tentang sesuatu barang atau seseorang
·
Gambar yang tampak pada cermin atau
lensa kamera
Menurut Simoret et.al (1989)
mengemukakan dua pengertian yakni sebagai berikut :
·
Gambaran obyek yang dibuahkan oleh pantulan
atau pembiasan sinar yang difokuskan oleh sebuah lensa atau sebuah cermin
·
Gambar rekaman suatu obyek (biasanya
berupa gambaran pada foto) yang dibuat dengan kata optic, elektro optic, optic
mekanik
2.
Pengertian
Image dan Imagery dalam Penginderaan Jauh
Dalam bahasa Inggris
ada dua istilah yang diterjemahkan dengan citra, yaitu image dan imagery. Untuk
membedakannya berikut ini dikemukakan bahasanya menurut Ford (1979) :
·
Image Adalah gambaran suatu objek atau
pewujudan, suatu obyek pada umumnya berupa sebuah gambar atau foto
·
Imagery adalah gambaran visual tenaga
Citra
Secara Harafiah, Citra (image) adalah
gambar pada bidang dua dimensi. Ditinjau dari sudut pandang matematis
citra merupakan fungsi menerus (continue) dari intensitas cahaya tersebut. Pantulan cahaya ini ditangkap oleh
alat-alat optic sehingga bayangan objek yang disebut citra direkam.
Menurut Murni (1992) citra sebagai
keluaran dari suatu system perekaman data dapat bersifat :
·
Optik berupa foto
·
Analog berupa sinyal video
·
Digital
3. Citra
Diam (sail images) dan Citra Bergerak (moving images)
·
Citra diam adalah citra tunggal yang
tidka bergerak, gambar pada halaman berikut adalah dua buah citra diam. Untuk
selanjutnya cita diam sering disebut citra diam saja
·
Citra Bergerak adalah rangkaian citra
diam yang ditampilkan secra berurutan (sekuensial) sehingga memberi kesan pada
mata yang melihat sebagai gambar yang bergerak. Setiap didalam rangkaian itu
disebut frame. Gambar-gambar yang tampak pada layar lebar atau sumber pada
hakikatnya tersendiri atas ratusan sampai ribuan frame.
Contoh Citra Diam

Gambar 1. Citra Diam
4. Pengolahan
Citra
Meskipun sebuah citra
kalah informasi, namun seringkali citra yang kita miliki mengalami penurunan
mutu (degredasi), misalnya mengandung cacat atau derau (noise) warnanya terlalu
kontras dan kurang tajam kabur (blurring, dan sebagainya tentu saja citra
semacam ini menjadi lebih sulit diinterpreasi karena informasi yang disampaikan
oleh citra tersebut menjadi berkurang dan agar citra tidak mengalami gangguan.
Pengolahan Citra : pemrosesan citra :
pemrosesan citra khususnya dengan menggunakan computer yang kualitasnya lebih
baik
5.
Operasi pengolahan citra
Operasi yang
dilakukan citra banyak ragamnya. namun secara umum diklasifikasikan dalam
beberapa jenis :
·
Perbaikan kualitas citra (image
enhancement)
Perbaikan kualitas citra bertujuan untuk memperbaiki
kualitas citra dengan cara memanipulasi parameter-parameter citra. Dalam
operasi ini, ciri-ciri khusus yang terdapat dalam citra lebih ditunjukan. Contoh-contoh
operasi perbaikan citra
a.
perbaikan kontras gelap/terang
b.
perbaikan tepian objek (edge enhancement)
c.
penajaman (sharpening)
d.
pemberian warna semu (pseudocoloring)
e.
penapisan derau (noise fillening)
·
Pemugaran citra (image resretation)
Pemugaran citra bertujuan untuk menghilangkan/meminimalkan
cacat pada citra. tujuannya hamper sama dengan operasi perbaikan citra. bedanya
pada pemugaran citra penyebab degredasi gambar. Contoh-contoh operasi pemugaran
citra
a.
menghilangkan kesamaran (deblurning)
b.
menghilangkan derau (noise)
c.
koreksi geometri
d.
koreksi radiometric
·
Pemampatan citra (image compression)
Pemampatan citra dilakukan agar citra dapat dipresentasikan
dalam bentuk yang lebih kompak sehingga memerlukan memori yang lebih sedikit.
Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemampatan citra.
·
segmentasi citra (image segmentation)
Segmentasi citra bertujuan untuk memecah suatu citra kedalam
beberapa segmen dengan kriteria tertentu.
·
pengorakan citra (image Analisis)
Pengorakan citra bertujuan untuk menghitung besaran
kuantitatif dari citra untuk menghasilkan deskripsinya. Teknik pengorakan citra
mengekstraksi ciri-ciri tertentu yang membantu dalam identifikasi objek yang
diinginkan dari sekelilingnya. Contoh-contoh operasi pengorakan citra
a.
Pendeteksian tepi objek
b.
Ekstraksi batas
c.
Representasi daerah
·
Rekontruksi citra
Rekontruksi Citra bertujuan untuk membentuk ulang objek dari
beberapa citra hasil proyeksi operasi terkontruksi banyak digunakan dalam
bidang medis.
6.
Pengertian interpretasi citra
Interpratasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara
dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan memiliki arti
penting objek tersebut (estes and simnett, 1975).
Dalam Interpretasi citra, penafsiran citra mengkaji citra
dan berupa melalui proses penalaran untuk mendeteksi mengidentifikasi dan
menilai arti penting objek yang tergambar pada citra. dengan kata lain,
penafsiran citra berupaya untuk mengenali objek yang tergambar pada citra dan menerjemahkannya
kedalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi, geografi, oceanografi dan
lain-lain. Didalam pengenalan objek yang tergambar pada citra terdapat 3
rangakaian
a. Deteksi
: pengamatan atas adanya suatu objek misalnya pada gambaran sungai terdapat
objek yang bukan air.
b. Identifikasi
: Upaya mencirikan objek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan
yang cukup
c. Analisis
adalah keterangan lebih lanjut misalnya mengamati jumlah penumpang
7.
Pendekatan
interpretasi menurut jenis data
Data pengindraan jauh
dapat berupa data numeric maupun data visual oleh karena itu Menurut Susanto,
1987) Interpretasi data dapat dilakukan secara digital maupun secara visual.
8. Pengenalan
pola
Pola adalah intensitas yang terdefinisi dan dapat
diidentifikasi melalui ciri-cirinya (features) menurut Hendrajaya B,
1995)Ciri-ciri tersebut digunakan untuk membedakan suatu pola dengan pola
lainnya dan ciri pada suatu pola diperoleh dari hasil pengukuran terhadap objek
uji
Pola
|
Ciri
|
Huruf
|
Tinggi,
tebal, titik sudut, lengkungan garis
|
Suara
|
Amplitudo,
frekuensi, nada, intonasi
|
Tanda
Tangan
|
Panjang,
kerumetan, tekanan
|
Sidik
Jari
|
Lengkungan,
jumlah garis, dll
|
Ciri – ciri yang diperoleh berasal dari
informasi
-
Spasial
: intensitas, pixel, histogram
-
Tepi
: arah, kekuatan
-
Kontur
: garis, elips, lingkaran
-
Wilayah/bentuk
: keliling, luas, pusat massa
Pengenalan
pola dapat membedakan objek yang lain.
Dua pendekatan
pengenalan pola yaitu statistik
dan struktural.
Terdapat dua fase pengenalan pola yaitu
a.
Fase
Pelatihan
Pada fase pelatihan,
beberapa contoh citra dipelajari untuk menentukan ciri yang akan digunakan
dalam proses pengenalan serta prosedur klasifikasinya. Pada fase pengenalan,
citra diambil cirinya kemudian ditentukan kelas kelompoknya.
·
Preprocessing
Proses
awal yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas citra (edge enhancement) dengan
menggunakan teknik-teknik pengolahan citra yang sudah diejelaskan pada bab-bab
sebelum ini.
·
Feature Extraction
Proses
mengambil ciri-ciri yang terdapat pada objek di dalam citra. Pada proses ini
objek di dalam citra mungkin perlu dideteksi seluruh tepinya, lalu menghitung
properti-properti objek yang berkaitan sebagai ciri. Beberapa proses ekstraksi
ciri mungkin perlu mengubah citra masukan sebagai citra biner, melakukan
penipisan pola, dan sebagainya. Classification Proses mengelompokkan objek ke
dalam kelas yang sesuai.
·
Feature Selection
Proses
memilih ciri pada suatu objek agar diperoleh ciri yang optimum, yaitu ciri yang
dapat digunakan untuk membedakan suatu objek dengan objek lainnya.
·
Learning
Proses
belajar membuat aturan klasifikasi sehingga jumlah kelas yang tumpang tindih
dibuat sekecil mungkin.
Kumpulan ciri dari suatu pola
dinyatakan sebagai vektor ciri dalam ruang bahumatra (multi dimensi). Jadi,
setiap pola dinyatakan sebagai sebuah titik dalam ruang bahumatra. Ruang
bahumatra dibagi menjadi sejumlah uparuang (sub-ruang). Tiap uparuang dibentuk
berdasarkan pola-pola yang sudah dikenali kategori dan ciri-cirinya (melalui
fase pelatihan).
b.
Fase Pengenalan
·
Pengenalan Pola secara Sintaktik
Pendekatan
ini menggunakan teori bahasa formal. Ciri-ciri yang terdapat pada suatu pola
ditentukan primitif dan hubungan struktural antara primitif kemudian menyusun
tata bahasanya. Dari aturan produksi pada tata bahasa tersebut kita dapat
menentukan kelompok pola. Gambar 2 memperlihatkan sistem pengenalan pola dengan
pendekatan sintaktik.
Pengenalan
pola secara sintaktik lebih dekat ke strategi pengenalan pola yang dilakukan
manusia, namun secara praktek penerapannya relatif sulit dibandingkan
pengenalan pola secara statistik.
Gambar 2. Pengenalan Pola secara
sintatik
